free page hit counter
Blogging Should Be Fun !

Film Tilik: Menyebarkan Informasi Bersumber dari Internet

Belum lama ini publik tengah heboh membicarakan film pendek besutan sutradara Wahyu Agung Prasetyo berjudul “Tilik”. Bahkan film pendek karya anak bangsa ini sempat trending beberapa hari di media sosial twitter. Banyak dari warganet mengunggah kembali  beragam cuplikan  film Tilik sehingga menggugah yang lainnya untuk segera menyaksikan film berdurasi 32 menit itu.

Film Tilik merupakan hasil karya rumah produksi asal Jogja Ravacana Films dan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui program Dana Istimewa (Danais). Film ini diputar secara gerilya sejak tahun 2018 silam dan telah menyabet penghargaan pada Piala Maya 2018, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Tilik baru bisa ditonton masyarakat luas pada 17 Agustus 2020 bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun.

Mengambil latar tempat sekitar Bantul dan Sleman, Tilik menceritakan tentang segerombolan ibu-ibu desa yang hendak tilik (menjenguk) Bu Lurah lantaran tengah dirawat di rumah sakit. Ibu-ibu berjumlah sekira 10 orang itu rela berdiri di bak truk selama perjalanan ke rumah sakit usai memutuskan pergi dadakan karena mendapat kabar dari Yu Ning tentang keadaan kepala desanya.

Selama perjalanan perempuan bernama Bu Tejo menghabiskan waktu dengan bergosip ria dan menyetir opini ibu-ibu tentang sosok Dian, yaitu sang kembang desa yang dinilai bukan perempuan baik-baik sebab masih melajang diusianya yang sudah semestinya memiliki pasangan alias menikah. Ibu-ibu yang tengah berdiri di bak truk tersebut pun mulai terhipnotis dan percaya dengan gosip yang disebarkan Bu Tejo ketika diperlihatkan sebuah foto Dian bersama lelaki.

“Kok dempet-dempetan gitu, ” “Astaghfirullahaladzim,” saut ibu-ibu ketika diperlihatkan foto oleh Bu Tejo yang bersumber dari internet.

Sementara itu ada sosok Yu Ning yang juga merupakan saudara jauh Dian menyangkal bahwa Dian bukan perempuan baik-baik dan mengingatkan Bu Tejo untuk menjaga ucapannya serta berhati-hati ketika mendapat informasi dari internet yang belum tentu kebenarannya. Namun, Bu Tejo tetap keukeuh bahwa informasi tentang Dian dari internet benar karena didukung foto. Terlebih Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya percaya berita di intenet itu valid karena yakin bahwa  internet diciptakan orang pintar. Maka informasi yang dibawa internet pun tentu valid alias tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Tak sampai disitu, Yu Ning pun kembali menyinggung soal kejadian penipuan di desa yang terjadi di masa lalu karena percaya berita di internet. Kendati demikian Bu Tejo tetap merasa bangga bisa memberi informasi tentang Dian yang bersumber dari internet  dan menyarankan Yu Ning untuk membaca berita di internet agar bisa seperti dirinya yang ‘serba tahu’.

“Makanya kalau punya HP itu jangan buat gaya saja. Buat cari informasi, gitu lo!,” ujar Bu Tejo menyindir Yu Ning.

Singkat cerita, Bu Tejo dan rombongan ibu-ibu sampai di halaman rumah sakit dan langsung di di sambut Fikri bersama Dian yang mana  keduanya digosipkan tengah menjalin hubungan asmara. Namun sayang seribu sayang, rombongan tidak bisa menemui Bu Luruh lantaran masih di ruang ICU sehingga memilih untuk mampir ke pasar karena sudah terlanjur menempuh perjalanan jauh jika harus memutuskan langsung kembali pulang ke rumah masing. Tentu, ide itu pun hasil dari usulan Bu Tejo.

Selama 32 menit tersebut, penonton dibuat geram sekaligus tertawa dengan tingkah polah Bu Tejo yang digambarkan perempuan cerewet dan cekatan dengan informasi yang tengah hangat diperbincangkan di desanya. Namun sayang Bu Tejo hanya mengadalkan satu sumber, yaitu internet tanpa memverifikasi kebenarannya.

Asumsi yang datang, baik dari Bu Tejo dan Yu Ning itu dipatahkan dengan akhir dari cerita tersebut. Sebab, Dian yang disangkakan Bu Tejo sedang menjalin hubungan dengan anak Bu Lurah, yaitu Fikri ternyata salah. Begitupun dengan Yu Ning yang tidak memiliki cukup bukti bahwa Dian bukan perempuan yang seperti disangkakan Bu Tejo pun tidak tepat. Di akhir cerita, nampak Dian ternyata merupakan kekasih Pak Lurah yang juga merupakan ayah dari Fikri.

Dilansir dari beragam sumber laman berita, Sang sutradara film Tilik ini hendak menyampaikan pesan kepada penonton, salah satunya perihal penyebaran berita hoaks atau berita bohong. Dilihat dari sisi melek terhadap informasi di internet dan sekitarnya, menurut Wahyu Agung, Film Tilik menyampaikan bahwa sebagai pengguna internet kita mesti bijak dan bisa dewasa menyikapi informasi yang berlalu-lalang di gawai kita. Artinya ketika ada berita yang datang tidak langsung ditelan mentah-mentah, tapi mesti cek dan ricek, validasi. Ketika sudah diketahui kebenarannya, jika bermanfaat, baru disebarkan luaskan ke pengguna yang lainnya.

*Siti Ressa

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Our gallery